Berbagi Mimpi

22 Jan 2015

b184301416a182c5ba96d0e11a6ffe2f_bw

“Sekiranya pendidikan menjadikanmu tak bisa melebur dengan masyarakat, lebih baik pendidikan tidak diberikan sama sekali.”

Terpancar rona bahagia dari wajah adik-adik SMA ketika rombongan kami dari Ikatan Mahasiswa Bangkalan ITS masuk ke kelas mereka. Entah bahagia karena jam yang seharusnya digunakan belajar dengan guru diganti roadshow kami ataupun bahagia menyambut kami. Sama yang aku alami tahun kemarin, rasa bahagia ketika alumni mengenakan jaket almamater universitas masuk ke kelas mengambil jam pelajaran. Itu tahun lalu, tahun ini gantian. Sekarang tugasku yang masuk ke kelas-kelas di SMA Bangkalan. Katanya sih untuk memotivasi adik kelas untuk lanjut ke universitas atau institut impian. Iya, memotivasi layaknya om-om botak di sebuah saluran televisi. Yang aku bingungkan disini, aku harus memotivasi apa, toh aku malah produk gagal. Dengan predikat siswa kelas unggulan, aku sekarang hanya mengenyam kuliah diploma. Berbeda dengan teman-teman dengan gelar Sarjananya kelak.

Berbekal pengalaman-pengalaman pahit selama mencari kursi kuliah, itu yang aku ceritakan kepada adik-adik kelas. Karena kata nenek moyang kita, pengalaman itu mahal harganya. Biar saja aku yang membeli pengalaman itu dengan harga yang sangat mahal untuk dibagikan kepada adik-adik SMA. Banyak respon yang aku terima ketika menceritakan pengalaman pahit itu, mulai dari ada yang hampir nangis saking terharunya sampai ada yang cuma ketawa-ketawa aja. Memang mereka masih polos, masih kurang sekitar 3 bulan lagi penentuan mereka lanjut kuliah atau malah nganggur membusuk di atas kasur yang empuk.

Nah ini memang tugasku untuk mengarahkan mereka lanjut ke jenjang lebih tinggi. Apalagi di Bangkalan tingkat siswa yang selepas lulus SMA langsung nikah cukup tinggi. Ini pengalaman ketika masuk di kelas ips di salah satu SMA Bangkalan, ketika ditanyakan mau lanjut kemana. Sebagian dari mereka jawab “Lanjut ke KUA mas”. Mirisnya gak sedikit yang jawab demikian itu adalah perempuan. Entah apa yang dipikiran siswa sekarang, mungkin mereka keseringan nonton doraemon. Niru nobita mungkin, yang ada dipikirannya hanya bagaimana kelak bisa menikah dengan shizuka. Miris, mangkanya jangan terlalu sering nonton doraemon.

Selain itu, kebanyakan dari mereka memang minder untuk memilih universitas-universitas top. Maklum, Bangkalan. Yang orang luar hanya tau tentang Jembatan Suramadu. Bicara pendidikan di Bangkalan, mungkin masih jauh. Tapi lagi-lagi tugasku untuk menyemangati mereka. Ya, aku hanya memberikan semangat tidak lebih dari itu. Aku juga bisa dapat almamater bermodalkan semangat dan doa orang tua.

Banyak dari kepala mereka yang berisi mimpi-mimpi masuk universitas top. Ya mimpi anak Bangkalan, hanya berjarak puluh kilometer dari Surabaya namun bermil-mil perbedaan taraf pendidikan kita. ITB ITS UI UGM UNAIR dan lain-lain, semoga tahun ini siswa Bangkalan menyebar ke universitas atau institut top.

Aku hanya ingin berbagi pengalaman dan berbagi mimpi, mimpi yang aku gagal raih. Semoga dapat meneruskan mimpi ini.


TAGS ITS


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post